“Version 1 Sucks, But Ship It Anyway”

Menurut saya, kebanyakan software developer punya masalah yang nyaris sama. Ada poin-poin tertentu dalam siklus hidup seorang software developer di mana dia adalah seorang perfeksionis. Mungkin sama halnya dengan penulis, pelukis, musisi atau profesi lain yang kaitannya erat dengan prosesi kreatifitas si pelaku.

Ijinkan saya untuk sedikit berteori mengenai hal ini. Selain bekerja sehari-hari sebagai janitor IT, dan ngoding (seringkali demi kepuasan pribadi, akhir-akhir ini untuk mreunion.net), saya juga seorang reviewer film amatiran (blog review saya ada di sini) namun saya tidak pernah secara persuasif mempromosikan blog review saya. Saya menulis review demi diri sendiri. Kenapa? Karena saya merasa review saya tidak layak dibaca. Itu saja. Untuk urusan menulis review, saya masih perfeksionis. Lebih baik kalau orang tidak tahu kalau tulisan-tulisan di blog tersebut itu tulisan saya. Saya punya cita-cita untuk jadi novelis😀 Ha ha, betul. Tapi, karena saya masih perfeksionis di bidang tulis-menulis saya tidak pernah berani untuk melangkah lebih jauh dari konsep. Lagipula, karena saya juga sangat hobi membaca fiksi, dan saya juga senang membaca review-review orang2 profesional macam Roger Ebert, Jonathan Rosenbaum atau reviewer lokal macam Mithrandir atau kiltfcuker (maaf, nama2 asli mereka saya tidak pernah tahu) yang kualitas tulisan dan pengetahuannya jelas jauh di atas saya, saya jadi punya pembanding, dan ketika saya bandingkan tulisan saya dengan tulisan mereka, saya jadi merasa tidak berarti. Maka pengetahuan dan eksposur itu yang semakin membuat saya tidak berani sesumbar dalam urusan tulis-menulis.

Kesimpulannya, menurut saya, dalam profesi yang setali tiga uang dengan kreatifitas, jadi perfeksionis itu bagus, kalau anda punya bakat, atau anda tidak terlalu terekspos dengan orang2 yang punya satu aspek saja yang lebih hebat dari anda. Tapi, kalau anda biasa-biasa saja, masih belum ketemu kehebatan anda di aspek mana dan cenderung jadi pengikut, jadi perfeksionis justru akan menghambat. Sebagai contoh, dulu, ketika saya pertama kali menulis review, saya masih mencontoh. Tapi sekarang, walaupun belum sampai pada tingkat yang buat saya pribadi memuaskan, sepertinya saya sudah punya suara dan gaya sendiri dalam menulis. And oh, having someones to *actually* demand your review is a moral boosts. Granted, they’re my friends, but you have no idea how elated I am to hear them *demanded* my reviews. I was practically beaming with happiness, and proverbially, crying a river of ecstasies.

Sama halnya dengan membangun software yang pada intinya sebenarnya adalah menulis. Saya masih perfeksionis di bidang ini (paling tidak masih dalam kadar tertentu sampai beberapa hari yang lalu). Saya masih menginginkan software yang saya bangun adalah software super, bebas bug, canggih, sekaligus imut, dan super responsif. Intinya, ketika saya membangun software, saya maunya software ini seakan-akan ditulis oleh Tuhan seandainya Dia adalah seorang programmer. Masalahnya, saya bukan Tuhan, dan tiap hari baca TechCrunch.com jadi, lengkap sudah, saya biasa-biasa saja dan terekspos dengan orang2 hebat yang sepertinya tiap hari selalu berinovasi. Dua hal ini, ditambah kebandelan saya untuk tetap menjadi perfeksionis di bidang ini membuat saya jadi seperti sekarang. Berkutat dengan ide, membangun ide itu sebentar, kemudian berhenti karena saya bersikeras untuk tidak melihat limitasi yang saya punya, atau di luar sana sudah ada yang buat lebih hebat.

Tepat 19 hari yang lalu dari hari ini, ketika saya mengantri untuk nonton “Despicable Me,” Abangkis menghubungi dan meminta saya untuk mengunduh aplikasi Survey dan mengisi-nya karena dia tahu saya memakai handset Android. Ketika sudah mengisi, dia minta saya login YM dan chatting sebentar (saya benci login YM lewat handset, by the way, those tiny keypads are killing me). Dia tanya ke saya aplikasi apa yang mau saya buat dari daftar yang ada di Survey tersebut. Saya jawab dengan segera karena memang saya punya kebutuhan ke arah situ (well, sebenarnya ada motivasi lain di balik ini tapi itu nanti saya siapkan buat blog post berikutnya). Dari percakapan informal ini, yang harus saya potong karena pintu teater sudah dibuka, saya sudah mulai memikirkan desain apa yang mau saya buat.

Fast forward, 11 hari kemudian, tanggal 20 Juli 2010, saya setup meeting dengan Abangkis. Saya bawa prototip aplikasi yang saya buat dan saya cerita limitasi, rencana dan segala macam yang berhubungan dengan aplikasi yang saya buat. Versi yang saya bawa waktu itu, sungguh jauh berbeda dengan versi 27 Juli 2010 yang sedianya akan rilis sebentar lagi. Setelah diskusi yang lumayan menyakitkan (kepala saya pusing luar biasa sepanjang pertemuan itu) akhirnya kami sepakat kalau masalah dari aplikasi ini ada di keinginan saya untuk membuat aplikasi yang sempurna dan bebas kutu sehingga supaya aplikasi ini bisa rilis dan tidak menjadi artifak pengumpul debu lainnya di laci berlabel ‘Yang Diabaikan’ yang isinya sudah berjibun, saya mau tidak mau harus meninggalkan paradigma itu dan mulai mengadopsi pemikiran rilis cepat, dan menambah fitur based on user’s feedback.

Awalnya sulit. Saya masih bersikukuh kalau saya bisa perfect, dan masih berilusi bahwa saya adalah seorang software developer yang hebat, canggih, dan sharp-to-the-very-edges. Nah, di sini, saya dapat pembelajaran betapa pentingnya punya tim. Seandainya saya kerja sendiri, saya akan improve aplikasi ini, dan akan saya tunda rilisnya sampai saya merasa puas (baca: tidak akan pernah rilis, karena saya tidak akan pernah puas). Ini sudah terjadi beberapa kali di siklus kehidupan saya sebagai software developer. Ketika Apple dengan AppStore-nya booming, saya, yang kebetulan juga seorang Apple enthusiast, beli lisensi untuk developer-nya yang seharga $99 dengan rencana besar untuk membuat aplikasi iPhone yang hebat. Hasil? Nol besar. Juga ketika Android muncul. Hasil? Masih nol, tapi akan jadi satu di beberapa hari ke depan. Semua nol tersebut karena saya bekerja sendiri dan masih berilusi bahwa semesta ini berotasi di sekitar saya. Praktisnya, Abangkis gave me a hot rod, he scolded me, and give me a deadline that I had to meet, jadi mau tidak mau saya harus rilis.

Itu sebabnya versi aplikasi saya masih di 0.1.

Pada akhirnya, saya masih ingin aplikasi saya ini jadi hebat, jadi pendobrak (walaupun, sudah ada startuplokal yang buat aplikasi serupa, dan sedang menyiapkan aplikasi BB-nya, juga ada aplikasi iPhone seharga $2 yang lebih lucu dari apa yang bisa saya tawarkan saat ini), punya fitur canggih. Saya akan berusaha supaya aplikasi ini sampai ke sana. Itu pasti. Karena saya juga memakai aplikasi ini secara aktif dan ada beberapa (rencana) fitur yang saya belum melihat ditawarkan oleh, for lack of better words, ‘kompetitor.’ However, in a spirit of a mreunion, I want to contribute, dan feedback user akan sangat-sangat kami perhatikan dalam mengembangkan aplikasi ini nantinya untuk masa depan komunitas Android yang lebih baik. Thus, the release of 0.1. Versi yang *pasti* buggy, limited, and has a lot to improve. Tapi, in the spirit of Internet 2.0, we’re going to release early, and often and because I personally used this application as well, rest assured that nobody is going to be left behind. Nobody.

All in all, Being a perfectionist is good, but sometimes, well, in my experience, most of the time, it ruins.

Rhama Arya W.

P.S. Writing in Bahasa is really hard. Kudos to those who has been blogged in Bahasa consistently.

N.B.2 Judul post ini diambil sekenanya dari Version 1 Sucks, But Ship It Anyway.

This entry was posted in Rant. Bookmark the permalink.

5 Responses to “Version 1 Sucks, But Ship It Anyway”

  1. Yoga Nandiwardhana says:

    btw it’s “Bahasa Indonesia.” “Bahasa” is a stupid, lazy term invented by fuckknowswho that should be buried six feet deep along with “dunia entertain”

  2. AriH says:

    Haha, setuju! Tapi ya gitu deh Ga, penggunaan ‘Bahasa’ dan ‘Secara’ yg salah kaprah sudah merajalela. Namun alasannya as usual, sebagai bahasa, yg penting kan orang ngerti :p
    Anyway, what is the app bro?

  3. Wonder kenapa yang comment ga jauh-jauh😀
    Ditunggu versi “public beta”-nya *meski belum pakai Android*

  4. AMYunus says:

    Tulisan yang menginspirasi bagi para developer. Trims atas tulisannya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s